Tak Sekadar Pendidikan Fotografi

Bukan hanya berkumpul, anggota komunitas ini belajar fotografi dengan serius. Hebatnya, kelas selalu diadakan pukul 6 pagi! Pagi ini cuaca Jakarta sepertinya tak bersahabat. Tak ada tanda-tanda sinar matahari akan muncul ke permukaan karena langit tertutup awan kelabu. Rasanya, lebih enak tetap berada di tempat tidur. Tetapi, hal ini tidak mungkin dilakukan. Ada janji yang harus didatangi, yaitu bertemu teman-teman di Komunitas Kelas Pagi Jakarta.

Baca juga : Jual Genset Jakarta

Komunitas Kelas Pagi Jakarta adalah kumpulan orang-orang yang serius ingin belajar fotografi , tanpa adanya batasan umur, status sosial, dan latar belakang pendidikan. Adalah Anton Ismail, pendiri Kelas Pagi yang berprofesi sebagai fotografer dan koki ini, yang menjadi penggagas utama sekaligus pengajar utama di komunitas ini.

Di sepanjang jalan, ada beberapa hal yang terus mengusik pikiran saya. Kenapa komunitas ini harus melakukan aktivitas di pagi buta? Bagaimana menjaga konsistensi, karena kelas selalu dimulai jam 6 pagi? Bukan rahasia umum, belajar berbayar saja bisa membuat orang bolos, apalagi gratis?

Dituntut Disiplin Waktu

Nyatanya, semua siswa Kelas Pagi selalu rajin datang. Anton Ismail sendiri sangat disiplin. Bahkan, khusus untuk kelas baru ini, ia mulai memberlakukan pola berbeda. Jika satu orang tidak masuk tanpa mengabari lewat SMS, maka 1 angkatan akan dibubarkan. Selain itu, jika sebelumnya dia membuka kelas tanpa ada batasan jumlah, kali ini, ia hanya merekrut 50 orang, yang telah lulus tes tulis dan wawancara.

Bukan tanpa alasan, selepas tahun 2009–2013, jumlah siswa meningkat pesat hingga ratusan dalam 1 angkatan. Proses belajar mengajar jadi kurang efektif dan kurang fokus. Ia pun akhirnya memutuskan untuk melakukan sistem penyaringan yang ketat. “Saya tidak akan memilih dia yang sudah pintar fotografi , tetapi saya akan memilih dia yang benar-benar memiliki niat untuk belajar fotografi , memiliki disiplin, komitmen, dan tekad maju. Enggak masalah dia bodoh dengan dunia fotografi , enggak punya kamera, apapun latar pendidikan dan profesi, umur tua atau muda, single atau sudah menikah,” ucap Pak’e— begitu Anton dipanggil oleh para siswanya.

Kenapa Jam 6?

Kelas selalu dimulai dari jam 6 pagi. Hal ini dimaksudkan agar mereka yang tertarik belajar fotografi , masih bisa mengikuti Kelas Pagi, lalu beraktivitas normal. “Enggak ada yang terkorbankan waktunya. Saya bisa membagi ilmu, siswa mendapat ilmu, dan kita semua masih bisa beraktivitas seperti biasanya,” ucap Pak’e.

Menurutnya, kelas ini awalnya terbentuk karena ia ingin mengajari 3 temannya, yaitu Ibob, Acong, dan Niko. Karena bingung menentukan waktunya—siang dan malam ia ada pekerjaan memotret—akhirnya disepakati kelas dimulai pagi jam 6. Inilah asal mula nama “Kelas Pagi”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *