Fenomena ”Telolet” Sejatinya Sudah Ada Sejak 20 Tahun Lalu Bagian 3

Persaingan bunyi klakson di jalan pun tak terhindarkan. Anak-anak yang senang melihat mobil besar, karena membayangkan menaiki atau kelak menyopirinya, meminta para sopir membunyikan trompet itu. Para sopir dengan sukacita memenuhinya. Bunyi telolet pun jadi semacam identitas.

Bus ke Pulogadung pukul 15.00 diketahui sudah mendekat dari bunyi trompet yang dibunyikan sopir dari jarak satu kilometer dari terminal di Kuningan. Nadanya berbeda dengan bus yang akan menuju Lebak Bulus atau Kampung Rambutan. Jika kini bunyi ”telolet” itu menjadi terkenal ke seluruh dunia, Internet yang membantunya hingga sampai di Gedung Putih di Washington, DC.

Atau anak-anak muda di New York kian menyebarkannya lagi dengan mengunggah video ”om, telolet, om…” dengan gembira. Ada yang menyebut ”telolet” mencerminkan kurangnya ruang publik bagi anak-anak di Indonesia sehingga mereka turun ke pinggir jalan atau mengejar bus untuk bersaing dan pamer video di YouTube. Mungkin ini kesimpulan ceroboh.

Sebab, kini orang-orang tua, remaja, hingga orang dewasa juga merekam bus yang tengah membunyikan trompet besar itu. Barangkali memang bahagia terbentuk oleh hal-hal sederhana. Telolet yang hanya demikian adanya membuat dunia bersukacita. Terutama di media sosial hari-hari ini. Ketika pertikaian yang membosankan belum kunjung terlihat ekornya, telolet membuat dunia maya kembali menyenangkan untuk dijelajahi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *