Schoemaker Pernah Menulis Buku Bersama Mohammad Natsir

Pada 1922, Schoemaker menikahi Petronella Margaretha van Oppen. Pernikahan itu tak membuahkan keturunan. Mereka berpisah dua tahun kemudian. Pertemuannya dengan Ouw Joe Hoa Njo berawal dari pekerjaannya. Schoemaker selalu membeli kayu di Ujung Berung, Bandung, yang kala itu dikenal sebagai perkebunan dan pusat penjualan kayu yang bagus. ”Ibu saya tinggal di sana bersama orang tua angkatnya. Ketika melihat Ibu, Ayah melamarnya. Mereka menikah pada 1933 dengan selisih usia 29 tahun,” katanya. Pernikahan ketiga ini hanya bertahan dua tahun. Ibu Nachita, perempuan Tionghoa yang tak bisa berbahasa Belanda, tak bisa menerima Schoemaker yang sering berada di luar rumah karena pergaulan sosialnya yang luas.

Website : kota-bunga.net

Apalagi Schoemaker yang flamboyan itu acap dikelilingi lawan jenis. ”Situasi itu tidak bisa diterima ibu saya sehingga mereka bercerai,” katanya. Pada 1935, Schoemaker menikahi Corona ”Croontje” Aveline Hilgers, gadis Belanda-Jawa. Mereka memiliki satu anak sebelum bercerai. Pada saat invasi Jepang, Schoemaker menikahi sekretarisnya, Jetty van Burgen. Pernikahan ini bertahan hingga akhir hayatnya. Dari lima pernikahan ini, Schoemaker memiliki enam putra dan empat putri. *** AGAMA menjadi bagian dari kisah hidup Schoemaker yang paling menarik. Selama hidupnya, Schoemaker membangun tiga rumah ibadah yang menjadi ikon Kota Bandung: Gereja Katolik Saint Peters (1922), Gereja Bethel (1925), dan Masjid Nijlandweg (1933). Entah kebetulan entah tidak, tiga agama itu pernah dianutnya sepanjang hidup. Schoemaker lahir dari keluarga Katolik yang taat. Menurut Dullemen, yang mewawancara Lucie, putri kedua Schoemaker dari istri pertamanya, Schoemaker meninggalkan Katolik dan menjadi muslim pada 1915.

Namun, menurut Nachita, ayahnya masuk Islam pada 1934, tahun yang sama dengan kelahirannya. ”Ayah mengatakan nama saya berasal dari bahasa Arab Mesir yang bermakna derai hujan. Tapi, menurut kawan-kawan saya yang berbahasa Arab, Nachita berarti membangun,” kata Nachita sembari tertawa. Langkah itu dilakukan Schoemaker setelah mendalami Islam dan mempelajari Al-Quran. Hal ini membuatnya populer di kalangan mahasiswa pribumi tapi menyebabkan komunitas kulit putih Belanda mengernyitkan dahi. Tindakan itu dianggap merendahkan status sebagai bangsa superior. Selain Schoemaker, satusatunya orang Belanda terkenal yang melakukan langkah ini adalah profesor asal Leiden, Snouck Hurgronje.

Gedung yang Dibangun Wolff Schoemaker

Hairul menyebutkan, pada beberapa kasus di Medan, bangunan bersejarah ini berlokasi di pusat kota dengan klasifikasi pajak kelas A. ”Tidak pernah ada pengurangan pajak. Itu sebabnya banyak pemilik menjual rumah tuanya. Hasilnya, rumah dengan nilai sejarah peninggalan arsitek ternama di Medan banyak yang hancur,” ujar Hairul. Surabaya terbilang lebih baik dalam urusan pemeliharaan gedung bersejarah. ”Ada keringanan tarif pajak bumi dan bangunan hingga 50 persen,” kata Suryanto dari Divisi Umum PT Perkebunan Nusantara X. PTPN X menggunakan gedung Koloniale Bank sebagai kantor direksinya. Gedung yang dibangun Wolff Schoemaker pada 1927 itu sempat terbakar pada 2005. Tapi, saat Tempo menengoknya beberapa pekan lalu, kondisinya bersih dan terawat.

Guncar, pemerhati sejarah lokal, memastikan hanya ada dua karya Wolff Schoemaker di Surabaya: Koloniale Bank dan Façade Hotel Orange. Padahal dalam buku Tropical Modernity (2010) karya C.J. van Dullemen, arsip-arsip tua di Belanda menunjukkan sejumlah karya Schoemaker di kota ini. Di antaranya sejumlah rumah di kawasan Ketabang. Namun Guncar meyakini bahwa kawasan perumahan di Ketabang merupakan karya peninggalan C.G. Citroen. Kondisi yang sama terjadi di Semarang. Buku yang sama mencatat setidaknya ada enam bangunan peninggalan Schoemaker. Tapi, ketika Tempo menyusuri jalan-jalan di Kota Semarang, hanya dua karya Schoemaker yang dipastikan masih berdiri hingga kini: vila untuk S.L. Liem dan vila untuk B.T. Liem. Vila yang disebut terakhir belakangan disebut Vila Helly.

Liem merupakan keluarga pedagang manufaktur Tionghoa kayaraya. Mereka memiliki ambisi agar diperlakukan setara dengan kaum elite Belanda. Setelah penghapusan aturan yang mengharuskan bangsa Tionghoa tinggal di pecinan saja, mereka membangun rumah di kawasan orang Belanda yang dirancang oleh Wolff Schoemaker. Vila ini telantar setelah keluarga Liem meninggalkan Indonesia menjelang gerakan 30 September 1965. Kini vila B.T. Liem lebih dikenal sebagai Puri Gedeh, kediaman resmi Gubernur Jawa Tengah. Sedangkan vila S.L. Liem, yang sempat menjadi kantor Perhimpunan Haji Indonesia, kini menjadi Hotel Semesta. Kedua bangunan ini dikenal menjembatani gaya modern dengan karakter lokal. Antara lain dengan adanya pendapa dalam dan teras.