Produk Memukau Harga Terjangkau

Teknorus.com – Smartfren seolah tak ingin berhenti untuk berinovasi. Empat produk yang digelontorkan ke pasar memiliki diferensiasi yang menyolok. Teknologi Snapdragon Audio+ menjadi pendongkrak suara saat digunakan bermusik. Otomatis, ftur ini menjadi nilai tambah dibandingkan kompetitor di kelasnya. Poin positif lainnya ada pada Snapdragon Quickcharge. Fitur ini bisa memangkas waktu charging 30% lebih singkat dibandingkan sebelumnya.

Baca juga : Gambar Keren

Selain itu, seperti seri Andromax lainnya, Smartfren Andromax C2, Andromax G2, Andromax i3 dan Andromax i3S, juga didukung oleh konektivitas EV-DO. Smartfren Andromax C2 hadir untuk memenuhi keinginan pasar di kelas entry level yang memiliki kocek terbatas. Smartphone yang memiliki dua pilihan warna, hitam dan putih ini cukup powerful di jeroan. Terbukti, prosesor Snapdragon Dual Core 1,2 GHz Cortex A7, memori internal 4 GB dan OS Android 4.3 Jelly Bean disematkan dan ditambah dengan ftur Dolby Digital Plus.

Pada Andromax G2 ftur yang ditawarkan lebih tinggi lagi. Menggunakan prosesor Snapdragon Quad Core 1,2 GHz Cortex A7, memori internal 4 GB, RAM 512 MB, OS Android 4.3 Jelly Bean serta layar seluas 4,5 inci, performa G2 jauh lebih mumpuni untuk beraktivitas gaming dan multimedia. Sementara untuk i3 dan i3s, spesifkasi yang dimiliki setara. Keduanya sama-sama didukung prosesor Snapdragon Quad Core 1,2 GHz Cortex A7, memori internal 4 GB, RAM 1 GB, kamera belakang 5 MP dengan ?ash dan kamera depan 1,3 MP. Pembedanya, ada pada desain dan teknologi audio yang ada di tubuh i3 dan i3s.

Teknologi Dolby Digital Sound dimiliki i3, sedangkan DTS Audio ditanamkan pada i3s. Dengan keandalan dalam bermusik, petualangan game dan multimedia menjadi lebih seru. Keempat ponsel diberikan paket khusus, yakni kartu perdana Smartfren + gratis paket data 600 MB selama 7 hari. Hanya banderol masing-masing tipe berbeda-beda. Untuk Smartfren C2 dilego dengan harga Rp749.000, G2 seharga Rp1.199.000, i3 dan i3s berbanderol Rp1.499.000. Semuanya sudah termasuk PPN.

Mini router Tak Cuma itu, Smartfren pun menyediakan Mini Router Smartfren Connex M1 sebagai solusi internetan berjamaah. Produk ini dapat bertindak menjadi hotspot mini router yang dapat dikoneksikan sampai enam perangkat. Hebatnya lagi, perangkat ini bisa difungsikan sebagai wireless storage hingga 32 GB menggunakan kartu memori dan Power Bank berkapasitas 4.400 mAh. Mini Router Smartfren Connex M1 dapat dibawa pulang tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam, hanya Rp499.000 (termasuk PPN). Paket penjualan yang telah termasuk bonus layanan data volume based EVO 6 GB.

“Kecanduan” Mengajar

Setelah mengajari ketiganya, Anton merasa “kecanduan” mengajar. Akhirnya, ia meneruskan kelas ini. Bahkan, walau sekolah ini gratis, ia tidak mengajar setengahsetengah dan sangat profesional. “Sejujurnya, ada kepuasan sendiri saat seseorang yang saya bimbing jadi orang sukses,” ucap Pak’e yang merasa tidak tersaingi saat anak muridnya jauh lebih sukses.

Tak hanya teori, para siswa ini diwajibkan terjun ke lapangan. Mereka juga harus membuat pameran. Yang menarik, foto-foto yang mereka hasilkan tak sekadar bagus, tetapi memiliki pesan. Misalnya, tentang kemanusiaan, pelestarian budaya, pariwisata, adat istiadat, toleransi beragama, dan sebagainya. Dalam mencari objek, tak jarang mereka hunting foto bersama.

Aktivitas komunitas ini tak hanya di dalam, tetapi juga keluar. Mereka pernah bekerja sama dengan pihak lain, seperti Ikatan Arsitek Indonesia, Ikatan Komputer Indonesia, komunitas Taman Langsat, dan sebagainya. Selain hobi tersalurkan, Anton berharap komunitas yang ia bentuk sekaligus dapat membantu siswa memiliki keahlian dan menambah penghasilan dari memotret.

Tak Sekadar Pendidikan Fotografi

Bukan hanya berkumpul, anggota komunitas ini belajar fotografi dengan serius. Hebatnya, kelas selalu diadakan pukul 6 pagi! Pagi ini cuaca Jakarta sepertinya tak bersahabat. Tak ada tanda-tanda sinar matahari akan muncul ke permukaan karena langit tertutup awan kelabu. Rasanya, lebih enak tetap berada di tempat tidur. Tetapi, hal ini tidak mungkin dilakukan. Ada janji yang harus didatangi, yaitu bertemu teman-teman di Komunitas Kelas Pagi Jakarta.

Baca juga : Jual Genset Jakarta

Komunitas Kelas Pagi Jakarta adalah kumpulan orang-orang yang serius ingin belajar fotografi , tanpa adanya batasan umur, status sosial, dan latar belakang pendidikan. Adalah Anton Ismail, pendiri Kelas Pagi yang berprofesi sebagai fotografer dan koki ini, yang menjadi penggagas utama sekaligus pengajar utama di komunitas ini.

Di sepanjang jalan, ada beberapa hal yang terus mengusik pikiran saya. Kenapa komunitas ini harus melakukan aktivitas di pagi buta? Bagaimana menjaga konsistensi, karena kelas selalu dimulai jam 6 pagi? Bukan rahasia umum, belajar berbayar saja bisa membuat orang bolos, apalagi gratis?

Dituntut Disiplin Waktu

Nyatanya, semua siswa Kelas Pagi selalu rajin datang. Anton Ismail sendiri sangat disiplin. Bahkan, khusus untuk kelas baru ini, ia mulai memberlakukan pola berbeda. Jika satu orang tidak masuk tanpa mengabari lewat SMS, maka 1 angkatan akan dibubarkan. Selain itu, jika sebelumnya dia membuka kelas tanpa ada batasan jumlah, kali ini, ia hanya merekrut 50 orang, yang telah lulus tes tulis dan wawancara.

Bukan tanpa alasan, selepas tahun 2009–2013, jumlah siswa meningkat pesat hingga ratusan dalam 1 angkatan. Proses belajar mengajar jadi kurang efektif dan kurang fokus. Ia pun akhirnya memutuskan untuk melakukan sistem penyaringan yang ketat. “Saya tidak akan memilih dia yang sudah pintar fotografi , tetapi saya akan memilih dia yang benar-benar memiliki niat untuk belajar fotografi , memiliki disiplin, komitmen, dan tekad maju. Enggak masalah dia bodoh dengan dunia fotografi , enggak punya kamera, apapun latar pendidikan dan profesi, umur tua atau muda, single atau sudah menikah,” ucap Pak’e— begitu Anton dipanggil oleh para siswanya.

Kenapa Jam 6?

Kelas selalu dimulai dari jam 6 pagi. Hal ini dimaksudkan agar mereka yang tertarik belajar fotografi , masih bisa mengikuti Kelas Pagi, lalu beraktivitas normal. “Enggak ada yang terkorbankan waktunya. Saya bisa membagi ilmu, siswa mendapat ilmu, dan kita semua masih bisa beraktivitas seperti biasanya,” ucap Pak’e.

Menurutnya, kelas ini awalnya terbentuk karena ia ingin mengajari 3 temannya, yaitu Ibob, Acong, dan Niko. Karena bingung menentukan waktunya—siang dan malam ia ada pekerjaan memotret—akhirnya disepakati kelas dimulai pagi jam 6. Inilah asal mula nama “Kelas Pagi”.