Anggaran Infrastruktur Juga Akan Naik Bagian 2

Badan Pusat Statistik mencatat impor bahan baku komponen proyek infrastruktur, seperti besi baja dan mesin, melonjak dan ikut mendorong defisit neraca perdagangan Indonesia pada semester pertama lalu. Rapat kabinet pada Selasa pekan lalu pun memutuskan akan meninjau ulang sejumlah proyek infrastruktur lantaran tekanan juga kian besar terhadap neraca pembayaran. Penundaan diutamakan pada proyek yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Terus melebarnya defisit transaksi berjalan (CAD)— menurut Bank Indonesia bakal mencapai US$ 25 miliar tahun ini—dinilai memperberat upaya stabilisasi nilai tukar rupiah. Kemarin, Staf Ahli Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang Pembangunan Sektor Unggulan dan Infrastruktur, Bambang Prijambodo, kembali menegaskan bahwa pengurangan impor dalam pembangunan akan diberlakukan pada proyek berskala kecil.

Dengan begitu, kata dia, penundaan tak akan berdampak besar terhadap perekonomian nasional. “Contoh ekstremnya di daerah terpencil yang tidak menggerakkan ekonomi,” kata dia. Bambang belum dapat merincikan proyek yang dimaksud. Yang jelas, kata dia, impor untuk pembangunan infrastruktur masih akan dilakukan kendati disortir oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berdasarkan kebutuhan.

“Pilihannya hanya impor yang banyak memberikan dampak besar ke ekonomi,” ujarnya. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol, Herry Trisaputra Zuna, pun memastikan penundaan tak akan dilakukan pada proyek pembangunan jalan tol. Sebab, kata dia, komponen pembangunan jalan tol tidak menggunakan bahan impor. “Kriterianya kalau dilihat komponen impor. Kalau jalan tol, komponen impornya di mana?” kata Herry di kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, kemarin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *