DKI Jakarta Batal Naikkan Bonus bag4

Pembatalan penambahan bonus atlet juga mendapat protes dari Wakil Ketua DPRD DKI Mohamad Taufik. “Kita enggak boleh, ya, kalau membelikan rumah? Itu kan bentuk penghargaan juga, bukan hanya bonus uang, boleh juga kan motor, rumah, barang lain. Ada enggak aturan yang melarang itu?” kata Taufik. Adapun sejumlah atlet daerah lain yang berprestasi di Asian Games 2018 telah menerima bonus dari pemerintah daerahnya. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta turut memberi bonus bagi para atlet asal DI Yogyakarta saat peringatan Hari Olahraga Nasional di Yogyakarta, Senin lalu.

Penyerahan hadiah itu dilakukan langsung oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dari 34 atlet dan juga pelatih asal DIY dalam Asian Games 2018, terdapat empat atlet yang berhasil mendapat medali, yakni Fitriani (peraih medali emas dari cabang olahraga panjat tebing) menerima Rp 100 juta, Gilang Ramadhan (peraih medali perunggu cabang olahraga voli pantai) mendapat Rp 37,5 juta, Ade Candra R. (peraih medali perak voli pantai) menerima Rp 75 juta, dan Muhammad Rian Ardianto (peraih medali perak dari cabang bulu tangkis) menerima Rp 105 juta.

Setop Memanjakan Si Kecil bag3

Contoh, pada saat anak tidak sengaja menumpahkan air minumnya di meja, kita jangan buru-buru untuk mengambil lap dan membereskannya, apalagi sambil ngomel-ngomel. Katakan saja, “Yah, Kakak numpahin air, ya. Ayo ambil lap dan kita bereskan sama-sama,” sambil membiarkan anak yang mengambil lap dan membereskan sebisanya. Jadi, anak belajar bahwa sekalipun ia berbuat salah, ada konsekuensi logis yang harus ia terima dan kerjakan sendiri. Kabar baiknya, me latih anak untuk beberapa pekerjaan rumah tangga akan sangat meringankan tugas kita juga, lo.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Nggak apa-apa berantakan pada awal, lambat laun anak akan mulai mampu sendiri menentukan standarnya, sebersih dan sebaik apa yang dia bisa. Masih terkait hal di atas, berikan anak ruang untuk melakukan kesalahan di rumah. Rumah merupakan lingkungan yang relatif bisa dikontrol oleh kita, tetapi bukan berarti kita akan membiarkan anak terpapar bahaya di rumah. Contoh, berjalan di lantai yang baru dipel. Ingatkan anak untuk selalu berhati-hati jika lantai rumah baru dipel.

Namun, pada saat ia terjatuh karena lantai licin, jangan salahkan si anak, apalagi menyalahkan lantainya. Dari pengalaman yang tidak enak itu, anak akan belajar konsekuensi dari berlari pada lantai licin adalah jatuh dan jatuh itu akan terasa sakit. Selanjutnya, anak akan ekstra hati-hati saat ia berjalan di lantai yang baru dipel, atau malah menunggu lantai kering dulu baru lewat. Kemudian, jangan mudah untuk merasa bersalah pada cara kita dalam hal mengasuh dan mendidik anak.

Pada waktu anak menangis karena kita berkata “tidak” untuk keinginannya, bukan berarti kita merupakan orangtua yang buruk. Kita sedang mendidiknya agar siap dalam menghadapi dunia nyata yang lebih keras daripada di rumah. Menbisakan sesuatu yang diinginkan tidak akan terwujud lewat menangis guling-guling, merengek, atau marah-marah. Konsistenlah dengan apa yang kita katakan dan bersepakat dengan pasangan untuk tetap kompak.

Terakhir, jadilah role model yang terbaik bagi anak. Seiring anak tumbuh besar, kita mungkin bukan merupakan satu-satunya panutan yang ia lihat. Ada banyak orang lain yang bisa hadir dan menjadi idolanya. Namun, Mama Papa bisa melakukan satu hal, yaitu menjadi panutan terbaik yang ia miliki.

 

Proses Uji Materi Pasal Perkawinan Mandek

Proses uji materi terhadap UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang diajukan sejumlah lembaga yang menyebut diri sebagai Koalisi 18+ ke Mahkamah Konstitusi jalan di tempat. Maidina Rahmawati, peneliti dari Institute for Criminal Justice Reform—salah satu anggota Koalisi—menuding Mahkamah Konstitusi tak serius menangani permohonan tersebut. “Kami belum mendapat perkembangan kejelasan proses pengujian aturan tersebut,” kata dia kepada Tempo, kemarin.

Maidina mengatakan pihaknya pada 2014 telah mengajukan uji materi Pasal 7 ayat 1 UndangUndang Perkawinan di Mahkamah Konstitusi. Namun saat itu permohonan ditolak lantaran kebijakan yang mengatur perkawinan tersebut menjadi kewenangan pemerintah. Pada Mei 2017, Koalisi kembali mengajukan permohonan serupa. Tapi hingga saat ini permohonan gugatan tersebut menggantung. Pada 3 September lalu, Koalisi berkirim surat ke MK untuk meminta kejelasan, tapi juga tak mendapat respons. Pasal 7 ayat 1 UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan perkawinan hanya diizinkan apabila laki-laki mencapai usia 19 tahun dan perempuan minimal berusia 16 tahun. Baca disini Autotrade Gold

Depresi Kehamilan Pada Papa

Mama yang hamil, kok Papa yang depresi? Hal ini bisa terjadi jika Papa tak mau mengubah pola pikir dan tidak siap mental menghadapi aneka perubahan akibat kehamilan. Bagaimanapun, kehamilan Mama ikut mem- bawa perubahan pada hidup Papa. Dengan kehadiran anak, kemungkinan anda harus menambah penghasilan atau menyiapkan ruangan ekstra di rumah.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Bila Papa tidak siap dengan adanya perubahan-perubahan ini beserta konsekuensi yang mengiringinya, Papa pun bisa mengalami “depresi kehamilan”. Depresi Papa ini umumnya terjadi pada trimester 2 atau awal trimester 3 kehamilan. Dalam Norwegian Mother and Child Cohort Study yang mengikuti tumbuh kembang sebanyak 31.663 anak sejak masih berada di dalam kandungan, sekitar 3% papa dari anak-anak tersebut mempunyai tingkat stres yang tinggi ketika kehamilan istrinya berusia 17 atau 18 minggu.

Tingkat stres yang tinggi ini sangat berhubungan erat dengan masalah perilaku anak mereka ketika menginjak usia 3 tahun. Para peneliti Norwegia ini menduga, calon papa yang terkena depresi bisa memengaruhi pada kondisi mental pasangannya yang tengah hamil dan menyebabkan perubahan hormonal yang bisa memengaruhi kehamilannya.

MENGHINDARI MAMA Gejala depresi kehamilan pada Papa sedikit berbeda dengan Mama. Pada Mama, gejalanya antara lain ditandai dengan tidak nafsu makan, lebih murung dan cenderung menarik diri dari kehidupan sosial, sering menangis, mengalami sulit tidur yang bukan disebabkan faktor fi sik, berhenti melakukan kegiatan yang disukai (misalnya, hobi), hingga penurunan berat badan. Pada Papa, depresi yang dialami membuatnya cen derung menghindari Mama.

Selain itu, Papa akan sering “menjatuhkan” orang lain, bahkan melakukan tindakan kekerasan?termasuk pada istri?sebagai bentuk pertunjukan kekuasaan. Di tempat kerja, Papa kerap mengalami kesulitan berkonsentrasi, lambat menyelesaikan pekerjaan sehing ga sering ditegur atasan atau klien. Padahal, Mama yang sedang hamil sangat membutuhkan dukungan Papa. Semakin tinggi dukungan Papa pada Mama selama mengandung, tingkat komplikasi kehamilan dan risiko kesehatan pada bayi semakin berkurang.

Sumber :