Review Satria F150

Review Satria F150 – Underbone is dead! keyakinan banyak pihak me- lihat data penjualan motor Begitulah bebek yang terus tergerus skutik dan motor sport. Menariknya, bagi Suzuki, motor bebeknya yang menyandang predikat hyper underbone, yakni Satria F150, justru menjadi penopang utama penjualan pabrikan ini. PT SIS selaku Agen Pemegang Merek (APM) sepeda motor Suzuki mengatakan, data AISI penjualan Satria F150 selama tahun 2014 secara nasional adalah 173,541 unit. Sementara di tahun 2015, sampai dengan bulan Mei ini adalah 33,149 unit. “Saat ini Satria F150 berkontribusi paling banyak dari penjualan Suzuki. Tapi pasar Indonesia sangat dinamis, Suzuki senantiasa mengawasi pergerakkan scooter, bebek dan sport di Indonesia. Kami terus berinovasi meluncurkan produk-produk yang diminati oleh masyarakat Indonesia,” buka Giri S. Triatmojo, Department Head Strategic & Planning 2W PT. SIS. Angka penjualan Satria F150 tersebut cukup lumayan di tengah lesunya penjualan motor sepanjang kuartal I tahun 2015 ini, dibanding periode yang sama tahun lalu. Coba bandingkan dengan penjualan motor bebek Honda yang mendominasi pasar lewat Supra series dengan 51.234 unit atau Revo series 45.805 unit. Memang Satria F150 masih kalah. Tapi jika dibandingkan dengan New Honda Blade yang terjual 8.730 unit, Satria F150 menang jauh. Kelebihan Satria F150 ada pada desain separate handle type dan front fork seperti motor laki, sehingga lebih dikenal dengan istilah ayam jago. Ditambah dengan mesin tegak 150cc DOHC, Satria F150 banyak diminati remaja karena desainnya yang sporty.

“Style Satria F150 sejak mulai diluncurkan tahun 2001 lalu menjadi ciri khas Suzuki. Saat itu, hanya Suzuki yang menganut tipe separate handle type di kategori underbone Adu AyAm JAgo Sukses Suzuki selama ini bersama dengan Satria F150 bakal mendapat perlawanan dari kompetitor. Paling baru, PT Kawasaki Motor Indonesia me-refresh ayam jago yang sempat mandeg, yakni Athlete. Hadir sebagai hybrid underbone, Athlete Pro di-develop oleh PT KMI sebagai kawin silang motor bebek dengan sportbike, Ninja. Sementara itu, Honda gosipnya bakal merilis versi terbaru CS-1 yang bocorannya menyerupai dengan Sonic yang sempat dipajang di booth salah satu dealer di event Jakarta Fair 2015 baru lalu. Sumber terpercaya OTOPLUS mengatakan, Honda CS-1 (K56) sudah ready. Cuma moment kemunculannya masih kabur. Diprediksikan baru mendekati akhir tahun ayam jago Honda ini dirilis ke pasar. “Sebab biasanya 2 bulan sebelum produk diluncurkan ada training mekanik. Tapi saat ini belum ada jadwal training dari AHM,” tutur sumber OP tersebut. Yang menarik, kemungkinan Honda bakal merilis dua model. “Model ayam jago untuk melawan Satria F150 dan model bebek sporty untuk melawan Jupiter MX King,” info sumber OTOPLUS ini sambil menggarisbawahi, versi terbaru CS-1 itu akan menggunakan mesin 150 cc milik CBR150 dan sudah menggunakan teknologi DOHC.

“Info ini saya dapat dari vendor komponen.” Ketika informasi ini OP konfirmasikan pada pihak Astra Honda Motor (AHM), Ahmad Muhibbuddin selaku Deputy Head of Corporate Communication mengatakan, “Mohon maaf untuk saat ini kami belum dapat menyampaikan rencana kami untuk hal tersebut. Akan tetapi, kami dengan senang hati menerima dan mempertimbangkan ide atau pendapat konsumen terhadap pengembangan produk yang paling sesuai dengan harapan mereka.” Bagaimana dengan Yamaha? Mohammad Masykur, Asisten GM Marketing PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) menjawab, “Yamaha belum punya rencana untuk mengeluarkan motor dengan setang dan fork model ayam jago karena marketnya belum banyak berkembang. Kami sekarang masih memperkuat untuk Jupiter MX King.” AncAmAn Kompetitor atau bebek. Saat ini Suzuki melihat peluang yang sama pada kelas 110cc, di mana belum ada kompetitor yang menganut tipe styling seperti ini,” lanjut Giri S. Triatmojo. Ya, Suzuki baru saja merilis Satria F115 Young Star. Menurut Giri S. Triatmojo, keputusan ini diambil setelah melihat peluang pada kategori bebek 110. “Model yang sudah ada sekarang, kalau dilihat dari segi style, lebih mengarah kepada family use atau practical use.

Di segmen ini, Suzuki meluncurkan Satria F115 Young Star dengan separate handle type dan tipe front fork yang sama dengan Satria F150, guna menawarkan styling yang lebih sporty kepada konsumen. Sehingga konsepnya Satria F115 adalah bebek sporty di kelas 110cc,” mantap Giri S. Triatmojo Keyakinan Suzuki ini didasarkan pada hasil survei mereka. “Suzuki melihat bebek sporty berdasarkan hasil survey dan trend di konsumen saat ini, bahkan 3 sampai 5 tahun ke depan. Hasil analisis survey market ini yang kami gunakan untuk menentukan konsep bebek sporty seperti apa nantinya. Karena masyarakat Indonesia sekarang sangat mengenal teknologi internet jadi arus informasi yang sekarang ada di dunia bisa diperoleh dengan cepat oleh masyarakat di pelosok. Oleh karena itu informasi ini mempengaruhi pandangan seseorang terhadap fashion maupun trend sepeda motor. Jadi kami pada saat menentukan konsep pasti tidak terlepas dari kegiatan survey,” papar Giri S. Triatmojo sambil menekankan meski skutik mendominasi penjualan sepeda motor, tapi motor bebek masih menjadi kebutuhan di daerah daerah tertentu di Indonesia. “Tren ini mirip dengan negara ASEAN seperti Thailand dan Filipina. Di kota kota besar seperti Jakarta, Bangkok, Manila penjualan sepeda motor didominasi oleh scooter, tapi di daerah sendiri kebutuhan sepeda motor bebek masih cukup tinggi. Oleh karena itu Suzuki senantiasa mengawasi pergerakan trend baik di kota besar maupun pelosok daerah.”

Mitsubishi Pajero Dakkar 2014, Yogyakarta

 Kota-Bunga Mitsubishi Pajero Dakkar 2014, Yogyakarta  – Dardiri adalah seorang pengusaha kontraktor yang terbiasa blusukan meninjau proyek. Selalu ada jadwal khusus untuk rutin mengecek pembangunan proyeknya. Berhubung lokasi proyek kebanyakan medan berat, dibutuhkan sebuah kendaraan yang mumpuni. Salah satu andalannya adalah Mitsubishi Pajero Dakkar. “Ada dua sih. Kalau medan sangat berat pakai Mitsubishi Strada Triton berpenggerak 4 roda. Sedangkan medan yang terbilang agak ringan, pakai Pajero Dakkar yang ‘cuma’ 2 wheel Inovasi anyar memang selalu hadir pada mobil garapan rumah modifikasi Auto Concept Surabaya. Seperti Honda Brio Satya ini yang beberapa waktu lalu sukses menyabet ‘double’ King of Brio Tuning Contest di Surabaya dan Jakarta ini. Evan Sumanto, pemilik mobil sekaligus punggawa Auto Concept mencoba mengaplikasi cutting sticker dengan tema Geisha. Yup, tokoh wanita Jepang ini dipilih lantaran menyesuaikan dengan merek mobil Honda. Namun coba perhatikan lagi pada garapan cutting sticker Honda Brio Satya keluaran 2014. “Bukan sekedar cutting sticker biasa tapi ada sedikit sentuhan lain agar gambarnya lebih hidup dan terkesan seperti lukisan,” jelas Evan. drive,” terang Dardiri.

Kendaraan jenis sports utility vehicle (SUV) memang cocok buat menginspeksi proyek di lokasi yang terbilang light off-road. Ground clearance cukup tinggi dan lebih pas digunakan sehari-hari. Agar tampilan lebih gagah, mobil keluaran 2014 tersebut diserahkan pada Agus Osmond, punggawa workshop modifikasi Jaguar. Beberapa komponen custom ditambahkan pada Pajero Dakkar. Paling utama pemasangan body-kit yang didesain untuk SUV. Sebut saja over fender dari fiberglass pada keempat sepatbor roda. Selain itu, kap mesin turut dipermak dengan menambahkan airscoop. Selain itu, tampang depan Pajero pun semakin gagah dengan pemakaian bull-bar. Desainnya mengikuti lekukan grill dan lampu depan. Kesan mobil penjelajah makin lengkap dengan penggunaan roof-rack. Selain sebagai tempat barang-barang, “Dijadikan pula sebagai dudukan lampu LED custom,” tutur pria yang juga memiliki usaha hotel ini. Walaupun terlihat pipih, namun sangat membantu jika melibas jalan gelap. Cocok untuk bekal inspeksi proyek yang sedang berjalan.

Schoemaker Pernah Menulis Buku Bersama Mohammad Natsir

Pada 1922, Schoemaker menikahi Petronella Margaretha van Oppen. Pernikahan itu tak membuahkan keturunan. Mereka berpisah dua tahun kemudian. Pertemuannya dengan Ouw Joe Hoa Njo berawal dari pekerjaannya. Schoemaker selalu membeli kayu di Ujung Berung, Bandung, yang kala itu dikenal sebagai perkebunan dan pusat penjualan kayu yang bagus. ”Ibu saya tinggal di sana bersama orang tua angkatnya. Ketika melihat Ibu, Ayah melamarnya. Mereka menikah pada 1933 dengan selisih usia 29 tahun,” katanya. Pernikahan ketiga ini hanya bertahan dua tahun. Ibu Nachita, perempuan Tionghoa yang tak bisa berbahasa Belanda, tak bisa menerima Schoemaker yang sering berada di luar rumah karena pergaulan sosialnya yang luas.

Website : kota-bunga.net

Apalagi Schoemaker yang flamboyan itu acap dikelilingi lawan jenis. ”Situasi itu tidak bisa diterima ibu saya sehingga mereka bercerai,” katanya. Pada 1935, Schoemaker menikahi Corona ”Croontje” Aveline Hilgers, gadis Belanda-Jawa. Mereka memiliki satu anak sebelum bercerai. Pada saat invasi Jepang, Schoemaker menikahi sekretarisnya, Jetty van Burgen. Pernikahan ini bertahan hingga akhir hayatnya. Dari lima pernikahan ini, Schoemaker memiliki enam putra dan empat putri. *** AGAMA menjadi bagian dari kisah hidup Schoemaker yang paling menarik. Selama hidupnya, Schoemaker membangun tiga rumah ibadah yang menjadi ikon Kota Bandung: Gereja Katolik Saint Peters (1922), Gereja Bethel (1925), dan Masjid Nijlandweg (1933). Entah kebetulan entah tidak, tiga agama itu pernah dianutnya sepanjang hidup. Schoemaker lahir dari keluarga Katolik yang taat. Menurut Dullemen, yang mewawancara Lucie, putri kedua Schoemaker dari istri pertamanya, Schoemaker meninggalkan Katolik dan menjadi muslim pada 1915.

Namun, menurut Nachita, ayahnya masuk Islam pada 1934, tahun yang sama dengan kelahirannya. ”Ayah mengatakan nama saya berasal dari bahasa Arab Mesir yang bermakna derai hujan. Tapi, menurut kawan-kawan saya yang berbahasa Arab, Nachita berarti membangun,” kata Nachita sembari tertawa. Langkah itu dilakukan Schoemaker setelah mendalami Islam dan mempelajari Al-Quran. Hal ini membuatnya populer di kalangan mahasiswa pribumi tapi menyebabkan komunitas kulit putih Belanda mengernyitkan dahi. Tindakan itu dianggap merendahkan status sebagai bangsa superior. Selain Schoemaker, satusatunya orang Belanda terkenal yang melakukan langkah ini adalah profesor asal Leiden, Snouck Hurgronje.

BANGGA BERNUSANTARA DAN JAGA KELESTARIAN ALAM

BANGGA BERNUSANTARA DAN JAGA KELESTARIAN ALAM – Paguyuban Vario Nusantara (PVN) memasuki usia satu dekade pada 22 Desember 2017 lalu. Untuk memperingatinya mereka menggelar bakti sosial dan berbagai kegiatan dengan mengundang lebih dari 140 klub Honda Vario se-Indonesia. Dalam acara ini PVN mengambil tema Bangga Bernusantara. Pasalnya ratusan klub Honda Vario ini tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Acara tersebut diawali dengan napak tilas bagaimana PVN terbentuk di GOR Simprug, Jakarta Barat pada 22 Desember 2007. “Kita sangat bersyukur dan bangga karena dalam 10 tahun kita sudah ada 144 club Vario yang tergabung di paguyuban ini,” ucap Setianti Dewi dari Ciputat Vario yang menjabat Ketua Umum Asosiasi Vario Banten.

“Tema Bangga Bernusantara ini juga supaya kita tetap bersatu meskipun berasal dari wilayah-wilayah yang berbeda dari segala penjuru Tanah Air. Kita harus tetap menjaga persaudaraan kita dengan cara melebur jadi satu di acara ini,” lanjutnya. Acara kemudian dilanjutkan di bilangan Situ Gintung, Tangerang Selatan, Banten. Selain merayakan dengan gathering, silaturahmi dan pemotongan tumpeng PVN juga membagikan bibit pohon kepada masyarakat sekitar Situ Gintung. “Selain untuk menjaga silaturahmi, kita juga terpanggil untuk menjaga kelestarian nusantara. Maka dari itu kita juga berikan bibit pohon kepada warga sekitar Situ Gintung,” tambah Fajar Romadhan dari Ciputat Vario Club selaku Ketua Umum Paguyuban Vario Nusantara 2017-2019.

Gedung yang Dibangun Wolff Schoemaker

Hairul menyebutkan, pada beberapa kasus di Medan, bangunan bersejarah ini berlokasi di pusat kota dengan klasifikasi pajak kelas A. ”Tidak pernah ada pengurangan pajak. Itu sebabnya banyak pemilik menjual rumah tuanya. Hasilnya, rumah dengan nilai sejarah peninggalan arsitek ternama di Medan banyak yang hancur,” ujar Hairul. Surabaya terbilang lebih baik dalam urusan pemeliharaan gedung bersejarah. ”Ada keringanan tarif pajak bumi dan bangunan hingga 50 persen,” kata Suryanto dari Divisi Umum PT Perkebunan Nusantara X. PTPN X menggunakan gedung Koloniale Bank sebagai kantor direksinya. Gedung yang dibangun Wolff Schoemaker pada 1927 itu sempat terbakar pada 2005. Tapi, saat Tempo menengoknya beberapa pekan lalu, kondisinya bersih dan terawat.

Guncar, pemerhati sejarah lokal, memastikan hanya ada dua karya Wolff Schoemaker di Surabaya: Koloniale Bank dan Façade Hotel Orange. Padahal dalam buku Tropical Modernity (2010) karya C.J. van Dullemen, arsip-arsip tua di Belanda menunjukkan sejumlah karya Schoemaker di kota ini. Di antaranya sejumlah rumah di kawasan Ketabang. Namun Guncar meyakini bahwa kawasan perumahan di Ketabang merupakan karya peninggalan C.G. Citroen. Kondisi yang sama terjadi di Semarang. Buku yang sama mencatat setidaknya ada enam bangunan peninggalan Schoemaker. Tapi, ketika Tempo menyusuri jalan-jalan di Kota Semarang, hanya dua karya Schoemaker yang dipastikan masih berdiri hingga kini: vila untuk S.L. Liem dan vila untuk B.T. Liem. Vila yang disebut terakhir belakangan disebut Vila Helly.

Liem merupakan keluarga pedagang manufaktur Tionghoa kayaraya. Mereka memiliki ambisi agar diperlakukan setara dengan kaum elite Belanda. Setelah penghapusan aturan yang mengharuskan bangsa Tionghoa tinggal di pecinan saja, mereka membangun rumah di kawasan orang Belanda yang dirancang oleh Wolff Schoemaker. Vila ini telantar setelah keluarga Liem meninggalkan Indonesia menjelang gerakan 30 September 1965. Kini vila B.T. Liem lebih dikenal sebagai Puri Gedeh, kediaman resmi Gubernur Jawa Tengah. Sedangkan vila S.L. Liem, yang sempat menjadi kantor Perhimpunan Haji Indonesia, kini menjadi Hotel Semesta. Kedua bangunan ini dikenal menjembatani gaya modern dengan karakter lokal. Antara lain dengan adanya pendapa dalam dan teras.

SELURUH PEMENANG DIBERANGKATKAN KE VERONA ITALIA

Kota-Bunga SELURUH PEMENANG DIBERANGKATKAN KE VERONA ITALIA – Rampung menggelar seluruh rangkaian acara Suryanation Motorland 2017, ditutup dengan pentas Grand Battle di kota Surabaya, Jawa Timur pada bulan November lalu. Setelah itu, Suryanation Motorland akan memberikan apresiasi dengan cara mengajak seluruh pemenang Best of The Best Suryanation Motorland untuk menghadiri acara Motor Bike Expo ke-10 di kota Verona, Italia yang akan digelar 18-21 Januari 2018. “Tujuan dari perjalanan ini adalah mendapatkan pengalaman dengan melihat langsung perkembangan roda dua di Eropa. Sehingga, nantinya kami berharap para pemenang ini bisa mendapatkan inspirasi dari karya-karya builder dunia yang hadir di acara Motor Bike Expo,” jelas Ari Kusumo Wibowo, Brand Manager Surya. Seperti diketahui, Motor Bike Expo adalah salah satu motor bike show terbesar yang diadakan di Eropa, bahkan gelaran ini digunakan oleh banyak brand motor dunia ikut berpartisipasi dan memanfaatkan momen ini untuk meluncurkan produk terbarunya. Banyak builder kelas dunia yang ikut bertanding di sini seperti Arlen Ness, Roland Sands, Go Takamine, Cole Foster dan Winston Yeh.

Mereka yang hadir juga akan pamerkan karya terbaru untuk pertama kalinya, sehingga dipastikan acara ini akan dipenuhi oleh pecinta roda dua dunia dari seluruh dunia. Dengan melihat langsung karya dan bertemu builder dunia, tentu akan memberikan pengalaman bagi para pemenang Best of The Best Suryanation Motorland yang ikut kesana. Berbeda dengan tahun lalu, Suryanation Motorland sudah mengajak pemenang-pemenang Suryanation Motorland 2016 untuk hadir ke acara Yokohama Hot Rod Custom Show di Jepang. Mereka mendapatkan banyak pengalaman dan juga inspirasi dari perjalanan di Negeri Sakura. Seluruh rombongan direncanakan akan berangkat menuju Italia pada 17 Januari 2018. Perjalanan ini akan menjadi inspirasi bagi para builder Indonesia, untuk berkreasi dan terus berkarya. Untuk melihat perjalanan rombongan Suryanation Motorland cek terus Intagram @suryanation_motorland. Suryanation Motorland, Show Your Pride!